Arti Sahabat dari Dokumenter “No Distance Left To Run”

11 Nov

Gue baru selesai nonton dokumenter-nya BLUR, judulnya “No Distance Left To Run”. Ekspektasi pertama gue sama dokumenter ini pertama kali yaitu sejenis dokumenter band pada umumnya. Tapi, gue salah, ternyata dokumenter ini punya kekuatan tersendiri dibanding dokumenter dari band lainnya yang pernah gue liat.

Dokumenter ini dibuka dengan cerita masa kecil para personil BLUR. Dari mana asal mereka? Sekolah dimana? Bagaimana kehidupan keluarga?

Dilanjut dengan cerita tentang bagaimana BLUR terbentuk. Perjalanan mereka dari satu album ke album berikutnya, dari satu konser ke konser lainnya. Semua diramu seperti biasa.

Dimana gak biasanya? Itu semua bisa lo liat pas masuk ke pembahasan kenapa Graham Coxon “keluar” dari BLUR. Ternyata pemahaman gue tentang Coxon “keluar” dari BLUR selama ini salah. Gue gak perlu ceritain details-nya, karena lo musti harus wajib nonton dokumenter yang menurut gue sampai saat ini terbaik dari yang terbaik.

Selesai mereka cerita tentang kenapa Coxon hilang di album “Think Thank”, dokumenter ini dilanjut dengan “comeback”-nya Coxon ke BLUR. Mereka buat tour concert di Inggris Raya termasuk kembali ke tempat mereka pertama kali manggung di depan publik. Lalu mereka juga manggung di sekolah terdahulunya.

Sampai pada saat yang mengharukan adalah ketika BLUR didaulat untuk menjejakkan kaki di konser termasyhur sejagat raya, Glastonburry! Diceritain di dokumenter ini bahwa waktu itu Damon nyamperin Graham yang notabene udah “ngilang” sejak lama tanpa kabar sama sekali. Pertemuan mereka untuk pertama kalinya lagi setelah “tragedi” di album Think Thank dimulai dengan sangat kaku oleh keduanya. Malah, Coxon bilang pas pertama kali buka pintu, mereka cuma diem-dieman dan ketika mulai ngomong, dua-duanya jadi salah tingkah. Tapi akhirnya keadaan itu cair sendiri karena mereka memang sahabat kental, sahabat sejati tak pernah usang diselimuti debu.

Ada satu adegan yang bikin gue merinding, malah gue kebawa sama aura dokumenter ini yang terlalu kuat “punch line”-nya bagi gue. Film dengan genre sad romantic pun lewat bagi gue, karena dokumenter ini lebih dari apa yang gue kira pada awalnya.

Dari setiap film yang gue pelototin, gue selalu ambil pelajaran. Buat gue, pelajaran itu gak hanya di dapat dari bangku sekolah, kuliah ataupun perpustakaan. Gue selalu mengkombinasikan itu semua, karena gue gak mau berhenti untuk belajar. Kalau gue lagi males baca buku, gue isi waktu belajar gue dengan nonton film. Kalau gue lagi males baca buku dan nonton film, gue isi dengan dengerin lagu. Kata siapa dengerin lagu bisa dapet pelajaran berarti? Lo gak bakalan pernah tau kalau lo belum coba sendiri.

Buat gue, dokumenter “No Distance Left To Run” ini sangat, sangat, sangat memberikan gue pelajaran selain tentang musik dan hingar bingar dunia di sekelilingnya, yang utama adalah tentang arti persahabatan.

Sahabat tak pernah kenal lelah. Sahabat tak pernah kenal kata bekas ataupun mantan. Sahabat tak pernah kenal nominal seribu, sejuta, bahkan setriliun.

Tuhan sahabat bagi gue. Orang tua gue, sahabat gue. Keluarga gue, sahabat gue. Dan lo semua yang selalu ada di sekeliling gue, baik di saat tangis menggelegar, dan di kala tawa membahana. Sahabat itu kekal.

You’re So Great, Mate!

Cheers,

Jumat, 12 November 2010 – 1.24AM

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.